x Pulau Seribu Asri

Dari Raja Buku ke Pencarian Makna Hidup: Kisah Konglomerat RI yang Jadi Mualaf

waktu baca 3 menit
Minggu, 8 Feb 2026 20:58 23 Arthur

Viralterkini.id – Masagung, atau Tjio Wie Tay, dikenal sebagai salah satu konglomerat keturunan Tionghoa yang sukses membangun imperium bisnis Toko Buku Gunung Agung.

Namanya identik dengan dunia perbukuan Indonesia. Namun di balik kejayaan bisnis yang ia raih, Masagung menyimpan perjalanan batin yang penuh kegelisahan hingga mengubah arah hidupnya secara drastis.

Perubahan besar itu terjadi ketika ia berada di puncak kekayaan dan pengaruh.

Puncak Kejayaan Gunung Agung

Pada era 1970-an, ketika berusia sekitar 50 tahun, Masagung menikmati masa keemasan bisnisnya. Gunung Agung telah menjelma menjadi pusat perdagangan buku terbesar di Indonesia.

Jaringan usahanya tidak hanya mencakup penerbitan dan penjualan buku, tetapi juga meluas ke sektor pariwisata, perhotelan, serta jasa penukaran uang.

Kesuksesan tersebut mengantarkannya masuk dalam jajaran pengusaha kaya pada masanya. Meski tidak pernah secara terbuka mengungkap jumlah hartanya, skala bisnis Masagung dapat dilihat dari besarnya kewajiban pajak yang harus ditanggung grup perusahaannya.

Dalam buku Apa dan Siapa? (2004) disebutkan bahwa pajak grup usaha Masagung mencapai ratusan juta rupiah, sementara bea cukai menembus miliaran rupiah, belum termasuk pajak penghasilan dari lebih dari dua ribu karyawan yang berada di bawah naungannya.

Ketika Kekayaan Melahirkan Kegelisahan

Alih-alih merasa tenang, kekayaan justru memunculkan rasa cemas dalam diri Masagung. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (2009) mencatat bahwa kondisi ini membuat Masagung hidup dalam ketidaknyamanan batin.

Ia merasa takut jika harta dan popularitas yang diraihnya justru berubah menjadi bumerang. Kekhawatiran itu muncul karena ia menilai kejayaan duniawi dapat menjerumuskannya pada kehidupan yang jauh dari nilai moral dan spiritual.

Kegelisahan tersebut menjadi awal dari pencarian makna hidup yang lebih dalam.

Pertemuan yang Mengubah Jalan Hidup

Dalam masa pencarian tersebut, Masagung bertemu dengan Tien Fuad Muntaco, sosok yang digambarkan Denys Lombard sebagai figur spiritual sekaligus pakar hipnotisme dan telepati.

Pertemuan ini menjadi titik balik penting dalam hidup Masagung. Setelah berinteraksi dengan Tien Fuad Muntaco, ia mengalami perubahan pandangan terhadap kehidupan dan keyakinan.

Lombard menulis bahwa sejak saat itu Masagung berada di bawah pengaruh spiritual Tien Fuad Muntaco dan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Sebelumnya, Masagung diketahui menganut agama Hindu.

Transformasi Keyakinan dan Gaya Hidup

Perubahan keyakinan tersebut diikuti oleh transformasi besar dalam gaya hidupnya. Akademisi Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent (2012) menyebut bahwa Masagung menjadi pribadi yang lebih religius dan aktif dalam kegiatan keagamaan.

Ia tidak hanya menjalankan ibadah secara pribadi, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas dakwah. Masagung mulai memandang bisnis bukan sekadar alat mencari keuntungan, melainkan juga sarana untuk menyebarkan nilai-nilai keagamaan.

Mendirikan Yayasan Jalan Terang

Sebagai wujud komitmennya, Masagung mendirikan Yayasan Jalan Terang. Yayasan ini berfokus pada kegiatan sosial dan keagamaan, seperti pembangunan masjid, rumah sakit, serta Museum Wali Songo.

Selain itu, ia aktif berdakwah di berbagai masjid di Jakarta. Jaringan bisnis yang dimilikinya juga dimanfaatkan untuk menerbitkan buku-buku bertema Islam, sehingga dakwah dapat menjangkau masyarakat luas melalui dunia perbukuan.

Pendewasaan Spiritual Menurut Sejarawan

Denys Lombard menilai perjalanan spiritual Masagung sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Ia menyebut bahwa setelah melalui masa kegelisahan di usia matang, langkah Masagung mendekati tradisi Jawa dan praktik kebatinan justru menunjukkan perkembangan dalam pencarian makna hidup.

Menurut Lombard, transformasi tersebut bukanlah kemunduran, melainkan bentuk kemajuan dalam memahami hubungan antara dunia material dan spiritual.

Warisan di Ujung Kehidupan

Masagung terus menjalani aktivitas sosial dan keagamaannya hingga akhir hayat. Pendiri Toko Buku Gunung Agung itu wafat pada 24 September 1990.

Ia meninggalkan jejak bukan hanya sebagai tokoh besar di industri perbukuan Indonesia, tetapi juga sebagai figur yang mengalami transformasi spiritual mendalam di tengah puncak kejayaan finansialnya. 

Kisah hidup Masagung menjadi potret bahwa kekayaan tidak selalu membawa ketenteraman, dan pencarian makna hidup bisa muncul justru saat seseorang berada di puncak kesuksesan.

(**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

INSTAGRAM

16 hours ago
16 hours ago
17 hours ago
17 hours ago
17 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!