Ilustrasi: Viralterkini.id Viralterkini.id – Dana Moneter Internasional (IMF) merilis data terbaru yang menunjukkan negara-negara dengan utang rumah tangga tertinggi di dunia. Utang rumah tangga mencakup hipotek, pinjaman kendaraan, utang kartu kredit, dan kredit pribadi yang diambil oleh warga negara.
Baru-baru ini, lembaga internasional itu memaparkan angka utang ini sebagai persentase dari produk domestik bruto (PDB). Para ekonom sering menggunakan metrik tersebut untuk menilai risiko keuangan pada tingkat rumah tangga dan kerentanan ekonomi suatu negara.
Berikut peringkat 15 negara dengan skor utang rumah tangga paling tinggi terhadap ukuran ekonominya:
Swiss menempati urutan pertama dengan utang rumah tangga mencapai 125,4% dari PDB. Angka ini mencerminkan jumlah kredit yang diambil oleh masyarakat relatif besar dibanding ukuran ekonomi nasionalnya. Australia dan Kanada berada di posisi berikutnya, juga dengan skor utang yang sangat tinggi.
Di sisi lain, beberapa negara besar justru memiliki beban utang rumah tangga yang lebih rendah. Misalnya, Brasil dan Italia berada di bawah ambang 37% dari PDB, jauh di bawah negara-negara pada daftar atas. Hal ini memberi gambaran berbeda tentang pola konsumsi dan akses kredit di berbagai wilayah.
Tingkat utang rumah tangga yang tinggi tidak selalu buruk. Kredit dapat mendorong konsumsi dan investasi, seperti pembelian rumah atau usaha baru. Namun, utang berlebihan berpotensi menyebabkan ketidakstabilan ketika suku bunga naik atau ekonomi melemah.
Para ahli menilai bahwa rumah tangga dengan beban kredit terlalu besar bisa lebih rentan terhadap guncangan ekonomi. Karena itu, pemantauan utang per kapita menjadi penting bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar.
Data IMF yang dirilis tidak memasukkan Indonesia dalam peringkat 15 negara dengan utang rumah tangga tertinggi. Artinya, utang rumah tangga Indonesia lebih rendah dibanding negara-negara di daftar tersebut.
Meski demikian, data global tetap mencerminkan pentingnya manajemen utang baik di tingkat individu maupun nasional. Pemerintah dan lembaga keuangan di berbagai negara terus memantau utang rumah tangga agar tidak menimbulkan risiko sistemik di masa depan.(**)
Tidak ada komentar