x Pulau Seribu Asri

Akhirnya Terjadi! Ukraina, AS, dan Rusia Duduk Satu Meja, Pertanda Perang Mulai Berakhir?

waktu baca 3 menit
Senin, 26 Jan 2026 10:30 45 Arthur

Viralterkini.id – Delegasi Ukraina, Amerika Serikat, dan Rusia menggelar pertemuan trilateral di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Jumat (23/1/2026).

Pertemuan ini menjadi yang pertama kali mempertemukan ketiga pihak secara langsung sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada tahun 2022.

Keterlibatan Rusia dalam forum tersebut dikonfirmasi oleh Penasihat Presiden Rusia Vladimir Putin, Yury Ushakov.

Ia menyatakan Moskow mengirim perwakilan dalam kelompok kerja trilateral yang membahas isu keamanan regional.

“Rusia berpartisipasi dalam kelompok kerja trilateral yang membahas persoalan keamanan,” kata Ushakov, sebagaimana dikutip media internasional, Senin (26/1/2026).

Pernyataan Ushakov menguatkan informasi yang sebelumnya disampaikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terkait berlangsungnya dialog tiga pihak di UEA.

Pertemuan Didahului Dialog AS-Rusia

Pertemuan trilateral ini berlangsung sehari setelah utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner, melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama lebih dari tiga jam pada Kamis malam (22/1/2026).

Ushakov menyebut pertemuan tersebut berlangsung intensif namun bersifat rahasia.

“Diskusi berlangsung sangat substantif, konstruktif, dan terbuka, tetapi tetap bersifat tertutup,” ujar Ushakov.

Namun demikian, Kremlin menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak akan tercapai tanpa pembahasan serius terkait persoalan wilayah.

“Tanpa penyelesaian masalah teritorial, Rusia tidak melihat adanya peluang tercapainya penyelesaian jangka panjang,” kata Ushakov.

Ia juga menegaskan Moskow akan tetap melanjutkan operasi militernya hingga kesepakatan politik tercapai.

“Rusia akan terus mengejar tujuannya di medan tempur sampai tercapai suatu kesepakatan,” ujarnya.

Sengketa Wilayah Jadi Hambatan Utama

Upaya Amerika Serikat untuk menghentikan perang yang telah berlangsung hampir empat tahun sejauh ini belum membuahkan hasil.

Tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan wilayah yang diklaim Moskow menjadi penghambat terbesar dalam proses negosiasi.

Saat ini Rusia menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina yang diakui secara internasional, meliputi hampir seluruh wilayah Luhansk serta sebagian Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia.

Moskow menuntut Ukraina menyerahkan keempat oblast tersebut secara penuh meski belum seluruhnya berhasil diduduki.

Kremlin menyatakan pertemuan trilateral ini dapat dilanjutkan pada Sabtu (24/1/2026) jika diperlukan.

Selain itu, utusan khusus Presiden Putin, Kirill Dmitriev, dijadwalkan bertemu secara terpisah dengan Steve Witkoff untuk membahas isu ekonomi.

Komposisi Delegasi

Delegasi Rusia dalam pertemuan trilateral dipimpin Kepala Direktorat Intelijen Utama Kementerian Pertahanan Rusia, Laksamana Igor Kostyukov.

Sementara delegasi Ukraina dipimpin oleh negosiator utama Rustem Umerov, didampingi pejabat Kantor Presiden serta Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, Andrii Hnatov.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pertemuan tersebut.

Sinyal Militer Tetap Berjalan

Di tengah upaya diplomasi, Rusia tetap menunjukkan kekuatan militernya dengan mengerahkan patroli pesawat pembom jarak jauh selama sekitar lima jam di atas kawasan Laut Baltik pada Kamis (22/1/2026).

Steve Witkoff sebelumnya menyatakan bahwa negosiasi kini hanya menyisakan satu isu utama.

“Saya rasa kami tinggal pada satu isu, dan kami telah membahas beberapa iterasi dari isu tersebut. Itu berarti isu itu dapat diselesaikan,” ujar Witkoff dalam sebuah forum di Davos, Swiss, dikutip dari CNN, Sabtu (24/1/2026).

Seorang pejabat Eropa yang mengetahui proses perundingan tersebut mengonfirmasi bahwa isu yang dimaksud adalah persoalan wilayah.

Sikap Trump dan Zelensky

Presiden Donald Trump menilai kesepakatan damai sudah semakin dekat dan mendorong Ukraina untuk menerima kompromi demi mengakhiri konflik.

Sebaliknya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa persoalan wilayah tetap menjadi inti permasalahan.

“Semua ini tentang bagian Timur negara kami, semua tentang tanah. Itulah isu yang belum terpecahkan,” kata Zelensky dalam pidatonya di Davos.

Ia juga mengkritik kurangnya dukungan konkret dari negara-negara Eropa dalam menghadapi tekanan Rusia.

Krisis Energi Ukraina

Di sisi lain, Ukraina saat ini berupaya memulihkan jaringan listrik bagi lebih dari satu juta warga yang terdampak serangan rudal dan drone Rusia dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah Ukraina menyebut sistem energi nasional menghadapi kondisi tersulit sejak tahun 2022 akibat rangkaian serangan terhadap infrastruktur vital.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

12 hours ago
13 hours ago
14 hours ago
14 hours ago
14 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!