x Pulau Seribu Asri

Sudah 6 Hari 3 Pekerja ‘Terkubur’ Longsor Tambang, Keluarga Korban Minta Menteri Bahlil Turun Tangan

waktu baca 3 menit
Kamis, 22 Jan 2026 07:03 988 Dano

Viralterkini.id, HALMAHERA TIMUR – Genap enam hari berlalu sejak longsor hebat menghantam area tambang nikel PT Mega Haltim Mineral (MHM) pada Jumat (16/1/2026). Hingga kini, tiga pekerja yakni Kenel Palilingan, Alief Alrasyid, dan Rifaldy Datunsolang masih “terkubur” di bawah material tambang di Desa Ekor, Wasile Selatan, Maluku Utara.

Kekecewaan mendalam atas sikap bungkam manajemen PT Halmahera Transportasi Energi (HTE) memicu gelombang protes. Keluarga korban kini melayangkan desakan terbuka kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, untuk segera mengintervensi kasus yang dinilai penuh ketertutupan ini.

Jerit Keluarga: “Tolong Jangan Sembunyikan Fakta!”
Di tengah kecemasan yang memuncak, pihak keluarga korban mengecam keras minimnya transparansi dari pihak perusahaan. Hingga hari kelima pascakejadian, belum ada rilis kronologi resmi maupun kepastian perkembangan evakuasi dari manajemen PT HTE.

“Sudah lima hari berlalu, namun belum ada kejelasan. Keluarga hanya menunggu kabar dalam kecemasan, sementara perusahaan belum menyampaikan informasi resmi yang jelas kepada kami. Kami meminta Bapak Menteri Bahlil Lahadalia untuk segera turun tangan. Tolong jangan sembunyikan fakta! Anak-anak kami belum ditemukan, tapi kenapa perusahaan seolah bungkam? Nyawa pekerja kami bukan sekadar angka statistik produksi nikel!” tegas perwakilan keluarga korban dengan nada getir, Selasa (20/1/2026).

Keluarga secara tegas menolak jika peristiwa ini dikategorikan sebagai bencana alam murni. Mereka menilai risiko longsor pada tambang terbuka seharusnya sudah diperhitungkan dalam desain teknis. Mereka pun mendesak pertanggungjawaban penuh dari Kepala Teknik Tambang (KTT) sebagai penanggung jawab operasional tertinggi di lapangan.

PKSDA: “Audit Investigatif dan Cabut IUP Jika Terbukti Lalai”
Insiden mematikan yang terjadi di tengah peringatan Bulan K3 Nasional ini turut memicu reaksi keras dari Koordinator Pemerhati Kelola Sumber Daya Alam (PKSDA), Hamdan Halil. Ia menilai bungkamnya perusahaan merupakan indikasi kuat adanya upaya menutup-nutupi pelanggaran kaidah keselamatan pertambangan.

“Sikap bungkam manajemen PT HTE dan PT MHM adalah pelanggaran serius terhadap prinsip transparansi industri pertambangan. Setiap insiden fatal wajib segera dilaporkan secara kronologis. Kami mendesak Menteri ESDM segera menurunkan tim investigasi independen ke Halmahera Timur. Jika ditemukan pelanggaran terhadap kaidah keselamatan, operasional tambang harus dihentikan sementara, bahkan pencabutan IUP perlu dipertimbangkan,” tegas Hamdan Halil.

Ia menambahkan bahwa target produksi tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan pekerja yang paling mendasar.

“Risiko longsor seharusnya sudah dimitigasi sejak awal dalam desain tambang. KTT harus bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini. Jika terbukti ada kelalaian fatal, pemerintah harus bertindak tegas. Tidak ada satu pun nyawa yang seharga dengan produksi, target, atau keuntungan tambang,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, publik terus menanti respons dari Kementerian ESDM serta langkah nyata evakuasi dari pihak korporasi. Tragedi ini menjadi ujian besar bagi komitmen keselamatan kerja di sektor pertambangan Indonesia. (dano)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

12 hours ago
13 hours ago
14 hours ago
14 hours ago
14 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!