x Pulau Seribu Asri

Industri AI Bakar Uang Tanpa Rem, ChatGPT Diprediksi Tumbang Lebih Dulu

waktu baca 3 menit
Sabtu, 17 Jan 2026 11:05 98 Arthur

Viralterkini.id – Industri kecerdasan buatan (AI) terus mengalirkan puluhan miliar dolar ke pengembangan model dan infrastruktur. Para investor masih percaya teknologi ini akan memicu revolusi besar yang kelak menghasilkan keuntungan masif. Keyakinan tersebut menopang valuasi perusahaan AI hingga menembus langit.

Namun, di sisi lain, kemampuan mencetak laba belum terlihat jelas. Sebagian besar perusahaan AI masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai profit, jika memang itu benar-benar terjadi. Selain itu, perdebatan soal siapa yang paling diuntungkan dari belanja besar-besaran ini terus menguat, terutama saat Google, Meta, dan OpenAI saling berebut dominasi.

Posisi OpenAI Berbeda dari Para Raksasa

Google dan Meta mengandalkan bisnis mapan di luar AI. Sebaliknya, OpenAI tidak memiliki sumber pendapatan utama selain teknologi AI itu sendiri. Meski begitu, kondisi tersebut tidak menghalangi OpenAI untuk berkomitmen menghabiskan lebih dari USD 1 triliun sebelum dekade ini berakhir.

Langkah tersebut mencerminkan taruhan berisiko tinggi. Di saat yang sama, minat pengguna untuk membayar langganan ChatGPT masih relatif rendah. Karena itu, OpenAI terus mencari sumber pendapatan alternatif untuk menopang operasionalnya.

Prediksi Keuangan OpenAI Kian Mengkhawatirkan

Situasi ini memunculkan pertanyaan krusial: berapa lama OpenAI mampu bertahan dengan strategi “bakar uang”? Dalam kolom opini New York Times, peneliti senior Council on Foreign Relations, Sebastian Mallaby, memprediksi OpenAI berpotensi kehabisan dana dalam 18 bulan ke depan.

Mallaby menilai pesaing OpenAI seperti Google, Microsoft, dan Meta memiliki keunggulan besar. Mereka dapat mengalihkan keuntungan dari bisnis inti untuk mendanai investasi AI bernilai ratusan miliar dolar. Sementara itu, OpenAI tidak memiliki kemewahan serupa.

Optimisme AI, Tapi Tidak untuk Semua Pemain

Meski mengkritik posisi OpenAI, Mallaby tetap optimistis terhadap masa depan AI. Ia menilai adopsi teknologi baru dalam dunia bisnis memang sering memakan waktu puluhan tahun. Namun, industri AI justru mencatat kemajuan signifikan hanya dalam tiga tahun terakhir.

Dengan demikian, Mallaby tidak memprediksi pecahnya gelembung AI. Ia hanya menilai tidak semua pemain akan bertahan. Menurutnya, OpenAI bisa kewalahan dalam waktu kurang dari dua tahun, meskipun namanya melejit sejak peluncuran ChatGPT.

Pada 2025 saja, OpenAI menghabiskan lebih dari USD 8 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan arus kas negatif yang masih sangat besar, meski perusahaan berhasil menggalang pendanaan dalam jumlah rekor.

“Perusahaan masih membutuhkan modal yang sangat besar. Sekaya apa pun potensi AI di masa depan, pasar modal tampaknya tidak mampu terus menutupinya,” tulis Mallaby, seperti dikutip detikINET, Sabtu (17/1/2026).

Skenario Akuisisi dan Tahun Penentuan

Jika dana benar-benar menipis, Mallaby memperkirakan OpenAI bisa diakuisisi oleh perusahaan raksasa seperti Microsoft, Amazon, atau pemain besar lainnya. Meski demikian, ia menilai kejatuhan OpenAI tidak akan menghentikan perkembangan AI secara keseluruhan.

“Kegagalan OpenAI tidak akan menjadi vonis bagi AI. Itu hanya akan menandai akhir bagi pengembang yang paling terdorong oleh hype,” tulisnya.

Sejumlah analis lain juga sepakat bahwa 2026 berpotensi menjadi tahun penentuan bagi OpenAI. Tekanan finansial dan persaingan ketat di industri AI diperkirakan akan semakin menguji ketahanan para pemain utamanya. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

13 hours ago
14 hours ago
16 hours ago
16 hours ago
16 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!