Copilot_20260117_043642 Viralterkini.id – Sergey Karaganov, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, mengeluarkan peringatan keras kepada Eropa. Ia menyebut Moskow siap menggunakan senjata nuklir jika Rusia berada di ambang kekalahan dalam perang melawan Ukraina. Peringatan itu muncul di tengah kebuntuan proses perundingan damai Rusia–Ukraina.
Karaganov menjabat sebagai Ketua Kehormatan Council for Foreign and Defense Policy, think tank kebijakan luar negeri utama Rusia. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat, Tucker Carlson. Wawancara itu ditayangkan pada 14 Januari 2026.
Dalam wawancara tersebut, Karaganov menolak anggapan bahwa Rusia dapat dikalahkan. Ia menyebut keyakinan itu sebagai “ilusi fantastis”. Ia juga mengkritik para pemimpin Eropa dengan nada tajam.
“Apa yang disebut kekalahan Rusia? Jika Rusia hampir kalah, Rusia akan menggunakan senjata nuklir. Eropa akan hancur secara fisik,” ujar Karaganov, dikutip dari Newsweek, Jumat (16/1/2026).
Menurut Karaganov, para pemimpin Eropa terus mendorong perang. Ia menilai langkah itu bertujuan membenarkan eksistensi politik mereka. Ia juga menyebut Eropa salah karena percaya perang tidak akan menjalar ke wilayahnya.
“Tugas Rusia adalah menyadarkan mereka. Mudah-mudahan tanpa senjata nuklir. Cukup dengan ancaman,” katanya.
Namun, Karaganov membuka kemungkinan eskalasi lanjutan. Ia menyatakan Rusia dapat menghukum negara-negara Eropa dengan keras. Ancaman itu muncul jika Eropa terus mendukung perang.
“Mudah-mudahan dalam batas yang terbatas,” ujarnya.
Pernyataan ini melanjutkan sikap Karaganov sebelumnya. Pada Juni 2023, ia secara terbuka mendorong Rusia untuk mengancam bahkan menggunakan senjata nuklir. Tujuannya, menurut dia, untuk mengembalikan “akal sehat” pihak-pihak yang mendukung perang. Ia juga mengkritik pemerintah Rusia karena dianggap terlalu sabar.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pandangannya kepada Reuters. Trump menilai Presiden Putin siap membuat kesepakatan damai. Namun, ia menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghadapi kesulitan besar. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan Rusia tetap terbuka terhadap negosiasi.
Meski begitu, peluang damai masih jauh. Ukraina menolak menyerahkan wilayah yang telah diduduki Rusia. Sebaliknya, Moskow menuntut Ukraina melepas kendali penuh atas Donbas.
Ketegangan ini berlangsung bersamaan dengan dinamika baru di NATO. Trump mendorong rencana akuisisi Greenland, wilayah otonom Denmark. Negara-negara Eropa langsung menyatakan dukungan kepada Kopenhagen. Trump sebelumnya menyebut Greenland berisiko jatuh ke tangan China atau Rusia. (**)
Tidak ada komentar