Karikatur Viralterkini.id Viralterkini.id – Sorotan dunia bisnis global kembali tertuju pada sektor pertambangan. Dua raksasa tambang dunia, Glencore dan Rio Tinto, kembali membuka pembicaraan untuk membentuk sebuah mega-merger.
Apabila kesepakatan ini tercapai, industri tambang global akan menyaksikan kelahiran entitas raksasa dengan valuasi menembus US$260 miliar atau setara Rp4.375 triliun (kurs Rp16.800 per dolar AS). Nilai fantastis tersebut bukan hanya mengguncang peta industri sumber daya alam, tetapi juga langsung menempatkan kesepakatan ini dalam jajaran merger terbesar sepanjang sejarah dunia.
Pembicaraan terbaru ini muncul hampir setahun setelah negosiasi sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan. Perlombaan menguasai pasokan tembaga global menjadi faktor utama, terutama di tengah proyeksi defisit pasokan hingga 10 juta ton pada 2040.
Di tingkat pengambilan keputusan tertinggi, merger tidak sekadar menyatukan neraca keuangan. Langkah ini mencerminkan strategi geopolitik dan visi jangka panjang. Saat ini, Glencore dan Rio Tinto berada di persimpangan strategis: bersatu dan membentuk kekuatan dominan, atau melanjutkan langkah masing-masing di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Mengacu pada data historis yang telah disesuaikan dengan inflasi, potensi merger Glencore–Rio Tinto senilai US$260 miliar akan langsung menempati peringkat keenam merger terbesar sepanjang masa. Kesepakatan ini berpotensi menggeser posisi merger Glaxo Wellcome–SmithKline Beecham.
Dengan nilai transaksi sebesar itu, Glencore dan Rio Tinto akan masuk ke dalam daftar eksklusif 15 merger korporasi terbesar sepanjang sejarah global.
Tidak seperti merger di sektor teknologi atau telekomunikasi, diskusi antara Glencore dan Rio Tinto berfokus pada komoditas fisik, khususnya tembaga.
Harga tembaga pekan ini menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$13.300 per ton. Melalui merger ini, Glencore—yang bermarkas di Swiss—menargetkan posisi sebagai produsen tembaga terbesar dunia. Di sisi lain, Rio Tinto dengan valuasi sekitar US$162 miliar perlu memperkuat portofolio bisnisnya setelah pesaing utama seperti BHP bergerak semakin agresif.
Namun demikian, perbedaan pandangan terkait batu bara berpotensi menjadi penghambat serius. Rio Tinto telah keluar sepenuhnya dari bisnis batu bara sejak 2018 dan menolak kembali ke sektor tersebut. Sementara itu, Glencore masih memiliki keterkaitan kuat dengan komoditas itu, meski telah memisahkan bisnis batu baranya ke entitas terpisah.
Sesuai aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki tenggat waktu hingga 5 Februari untuk mengajukan tawaran resmi atau menghentikan pembicaraan.
Jika Glencore dan Rio Tinto benar-benar melangkah menuju merger, sejarah menyediakan banyak pelajaran penting. Lima kesepakatan terbesar dunia di atas mereka memperlihatkan motif beragam, mulai dari ambisi korporasi hingga intervensi negara. (**)
Tidak ada komentar