x Pulau Seribu Asri

Imbas Ledakan AI, Menjadi Miliarder Kini Tak Lagi Butuh Waktu Puluhan Tahun

waktu baca 4 menit
Minggu, 11 Jan 2026 12:21 80 Arthur

Viralterkini.id – Jika para taipan properti, tambang, dan industri konvensional membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan kekayaan hingga level miliarder, gelombang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) justru memangkas jarak tersebut secara drastis. Perkembangan AI membuat sebagian orang mampu mencapai status miliarder hanya dalam hitungan tahun, bahkan bulan.

Ledakan AI tidak hanya memperkaya miliarder lama seperti Jensen Huang, CEO Nvidia, dan Sam Altman, CEO OpenAI, tetapi juga melahirkan deretan miliarder baru dari perusahaan rintisan yang relatif muda. Sejumlah pendiri startup ini diperkirakan akan menjadi figur berpengaruh di Silicon Valley, mengikuti pola yang pernah terjadi pada era ledakan teknologi sebelumnya, termasuk demam dot-com akhir 1990-an. Kala itu, para eksekutif yang meraup keuntungan besar kemudian kembali menanamkan modal atau memandu gelombang inovasi berikutnya.

Di antara miliarder AI generasi baru tersebut adalah Alexandr Wang dan Lucy Guo, pendiri Scale AI, perusahaan pelabelan data yang menerima investasi senilai US$14,3 miliar dari Meta pada Juni tahun lalu. Sementara itu, para pendiri startup pengkodean berbasis AI Cursor—Michael Truell, Sualeh Asif, Aman Sanger, dan Arvid Lunnemark—juga masuk jajaran miliarder setelah perusahaan mereka memperoleh valuasi US$27 miliar dalam putaran pendanaan pada November.

Selain itu, para pengusaha di balik Perplexity (mesin pencari AI), Mercor (startup data AI), Figure AI (pengembang robot humanoid), Safe Superintelligence (laboratorium AI), Harvey (perangkat lunak hukum berbasis AI), serta Thinking Machines Lab, turut bergabung dalam klub perusahaan dengan pendapatan sembilan digit dolar AS. Informasi tersebut dihimpun dari pernyataan perusahaan, sumber yang dekat dengan startup, data PitchBook, serta laporan media.

Lonjakan valuasi perusahaan swasta sepanjang tahun lalu membuat saham para pendiri berubah menjadi sumber kekayaan yang sangat besar. Jai Das, mitra di Sapphire Ventures, menyamakan fenomena ini dengan para baron kereta api pada era Gilded Age akhir abad ke-19 yang memanfaatkan terobosan teknologi pada masanya. Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan tersebut bisa bersifat sementara jika perusahaan rintisan gagal memenuhi ekspektasi pasar.

“Yang menjadi pertanyaan adalah perusahaan mana yang benar-benar bertahan, dan pendiri mana yang kelak menjadi miliarder sejati, bukan sekadar di atas kertas,” ujarnya.

Perjalanan menuju status miliarder pada era AI ini jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Elon Musk, misalnya, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapai level tersebut. Ia baru menjadi miliarder setelah memimpin Tesla dan mendirikan SpaceX, meski telah menjadi jutawan sejak salah satu bisnis awalnya diakuisisi eBay pada 2002. Sebaliknya, banyak miliarder AI terbaru mendirikan perusahaan mereka kurang dari tiga tahun lalu, tak lama setelah OpenAI meluncurkan ChatGPT, sebelum kemudian melihat valuasi perusahaan mereka melonjak pesat berkat masuknya investor.

Mengutip The New York Times, Mira Murati (37), mantan eksekutif puncak OpenAI, mengumumkan startup Thinking Machines Lab pada Februari 2025. Hanya dalam beberapa bulan, perusahaan tersebut sudah mencapai valuasi US$10 miliar pada Juni, meski belum merilis produk apa pun. Hal serupa terjadi pada Safe Superintelligence yang didirikan Ilya Sutskever (39) pada Juni 2024. Startup tersebut belum meluncurkan produk, namun telah bernilai sekitar US$32 miliar setelah menghimpun pendanaan US$2 miliar pada 2025, menurut PitchBook.

Brett Adcock (39), CEO Figure AI yang mendirikan perusahaannya pada 2022, kini memiliki kekayaan bersih sekitar US$19,5 miliar. Aravind Srinivas (31), CEO Perplexity, juga mendirikan perusahaannya pada tahun yang sama dan kini valuasinya mendekati US$20 miliar. Perplexity menyatakan bahwa Srinivas tidak berfokus pada kekayaan pribadi dan memilih gaya hidup sederhana, seraya menegaskan bahwa kebijaksanaan dianggap jauh lebih penting dibanding sekadar akumulasi harta.

Akumulasi kekayaan di sektor AI berlangsung sangat cepat sepanjang tahun lalu. Startup Harvey, yang berbasis di San Francisco, menggelar beberapa putaran pendanaan pada Februari, Juni, dan Desember, dengan valuasi melonjak dari US$3 miliar menjadi US$8 miliar. Kenaikan ini turut mendongkrak kekayaan para pendirinya, Winston Weinberg dan Gabe Pereyra. Weinberg (30) menyebut valuasi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekayaan riil.

“Nilainya memang miliaran, tetapi itu masih sebatas angka di atas kertas,” ujarnya.

Ciri lain dari ledakan teknologi adalah usia para pendirinya yang relatif muda. Seperti Larry Page dan Sergey Brin yang mendirikan Google di usia 20-an, serta Mark Zuckerberg yang membangun Facebook saat berusia 19 tahun, miliarder AI terbaru juga didominasi generasi muda. Profesor sejarah ekonomi teknologi dari University of Washington, Margaret O’Mara, menilai momen AI saat ini menciptakan kekayaan luar biasa bagi orang-orang yang masih sangat muda dalam waktu singkat.

Di antaranya adalah para pendiri Mercor yang baru berusia 22 tahun. CEO Mercor, Brendan Foody, keluar dari Georgetown University pada 2023 setelah mendirikan perusahaan tersebut bersama dua rekan lamanya, Adarsh Hiremath dan Surya Midha. Startup ini meraih valuasi US$10 miliar dalam putaran pendanaan Oktober lalu. Sementara itu, Michael Truell (25), CEO Cursor, bersama para pendiri lainnya yang masih berusia 20-an, memperoleh status miliarder setelah startup mereka—Anysphere—mencapai valuasi US$27 miliar.

Meski demikian, ledakan AI masih didominasi oleh pendiri laki-laki, sebuah pola yang kerap muncul dalam setiap siklus teknologi besar. Hanya segelintir perempuan, seperti Lucy Guo dan Mira Murati, yang berhasil menembus jajaran miliarder di tengah booming AI global. (Arth)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

16 hours ago
17 hours ago
18 hours ago
18 hours ago
19 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!