Kiki Barki. Foto Kredit: Tatlerasia.com Viralterkini.id – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) kembali menyoroti kinerja Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang dinilai belum tegas menyikapi aktivitas pertambangan nikel PT Position di Halmahera Timur, Maluku Utara. Satgas yang berada di bawah koordinasi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin itu dianggap belum mengambil langkah konkret terhadap perusahaan tambang yang dikaitkan dengan pengusaha Kiki Barki.
Jatam menyebut aktivitas PT Position telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat. Operasi pertambangan nikel perusahaan tersebut disebut berlangsung di wilayah hutan adat yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga. Selain itu, keberadaan tambang juga memunculkan persoalan tumpang tindih konsesi dengan perusahaan lain, yang hingga kini belum diselesaikan oleh negara.
“Masalah PT Position ini sudah jelas sejak awal. Hutan adat diambil alih, ruang hidup warga terdesak, dan konflik wilayah tambang dibiarkan. Dalam situasi seperti ini, seharusnya negara hadir dengan langkah tegas, termasuk pencabutan izin. Tapi itu belum terjadi,” ujar Pengkampanye Jatam, Alfarhat Kasman, sebagaiman dilansir Inilah.com, Kamis (8/1/2026).
Menurut Farhat, Satgas PKH belum menunjukkan keberanian menghadapi pengusaha tambang berskala besar. Ia menilai, selama ini langkah penertiban lebih banyak menyasar pelaku kecil, sementara aktor-aktor bermodal kuat justru luput dari tindakan.
“Satgas PKH dibentuk untuk menertibkan kawasan hutan yang dirusak tambang. Kalau yang dihadapi pengusaha besar lalu negara ragu, itu sama saja membiarkan praktik perusakan terus berjalan. Hukum tidak boleh kalah oleh kekuatan modal,” tegasnya.
Farhat juga menyinggung kasus penangkapan 11 warga adat Maba Sangaji pada Oktober 2025 lalu. Penangkapan itu terjadi saat warga menolak aktivitas pertambangan nikel PT Position yang dinilai telah mengancam keberlangsungan hidup komunitas adat di wilayah tersebut.
“Yang menyedihkan, warga yang mempertahankan hutan adat justru dipidana dan dijatuhi hukuman penjara lima sampai enam bulan. Mereka kehilangan hutan, kehilangan mata pencaharian, lalu dikriminalisasi. Sementara dampak tambang, seperti pencemaran sungai yang mengalir ke wilayah Halmahera Timur, terus berlangsung,” ujarnya.
Di balik operasional PT Position, terdapat jejaring bisnis yang terhubung dengan Harum Energy Tbk, perusahaan yang berada dalam lingkaran usaha keluarga Barki. Sejak 2024, PT Position berada di bawah kendali PT Tanito Harum Nickel (THN), anak usaha Harum Energy, yang menandai pergeseran fokus bisnis grup dari sektor batu bara ke nikel.
Dalam struktur kepemilikan saham, THN menguasai 51 persen saham PT Position, sementara 49 persen lainnya dimiliki Nickel International Capital Pte Ltd yang berbasis di Singapura. Kendati melibatkan pemodal asing, arah kebijakan dan pengambilan keputusan strategis perusahaan tetap berada di bawah kendali Harum Energy sebagai induk usaha.
Di lapangan, PT Position terhubung dengan jaringan perusahaan lain di bawah Tanito Harum Nickel, termasuk PT Infei Metal Industry, PT Westrong Metal Industry, PT Blue Sparking Energy, dan PT Harum Nickel Perkasa. Mayoritas perusahaan tersebut beroperasi di kawasan industri nikel Weda Bay, Halmahera.
Salah satu proyek strategis grup ini adalah pembangunan fasilitas High-Pressure Acid Leaching (HPAL) oleh PT Blue Sparking Energy dengan kapasitas produksi sekitar 67.000 ton setara nikel per tahun. Proyek tersebut memperkuat posisi Harum Group dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Selain mengembangkan bisnis nikel, Harum Energy juga masih mengelola sejumlah konsesi batu bara di Kalimantan melalui perusahaan seperti Mahakam Sumber Jaya, Santan Batubara, dan Bumi Karunia Pertiwi. Grup ini juga memiliki lini usaha pelayaran dan logistik, antara lain Layar Lintas Jaya dan Lotus Coalindo Marine.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi Harum Group ke sektor nikel berlangsung agresif melalui pembangunan smelter, pengembangan fasilitas pengolahan, serta kemitraan dengan mitra internasional, termasuk Eternal Tsingshan Group Limited dari China, yang dikenal sebagai pemain global di industri nikel dan baja tahan karat.(gn)



Tidak ada komentar