Kredit Foto: Bloomberg Viralterkini.id – Analis komoditas memperkirakan, apabila Amerika Serikat benar-benar terlibat dalam perbaikan serta pengelolaan fasilitas minyak di Venezuela, pasokan minyak mentah dari negara Amerika Latin tersebut akan mulai mengalir ke pasar internasional secara bertahap. Masuknya tambahan pasokan ini berpotensi memperbesar kelebihan stok minyak global yang saat ini sudah terjadi, sehingga memberi tekanan pada harga minyak dunia.
Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak mentah global secara langsung berdampak pada harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Menurutnya, secara perhitungan ekonomi, ketika harga minyak dunia melemah, harga BBM seharusnya ikut menyesuaikan.
“Jika harga minyak global turun, maka harga keekonomian BBM dalam negeri semestinya ikut menurun. Kondisi ini membuka peluang bagi pemerintah untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi atau mengurangi beban subsidi dalam APBN,” ujar Sutopo saat dihubungi, Rabu (7/1/2026), sebagaimana dilansir Bloomberg.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa masuknya pasokan minyak Venezuela ke pasar global tidak akan berlangsung cepat. Meski Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, infrastruktur industri minyaknya telah mengalami degradasi serius selama bertahun-tahun sehingga memerlukan waktu dan investasi besar untuk kembali optimal.
Sutopo memprediksi, Amerika Serikat tidak akan membiarkan minyak Venezuela mengalir secara bebas tanpa kendali. Produksi dan distribusi diperkirakan akan diatur secara hati-hati untuk mencegah harga minyak dunia jatuh terlalu dalam akibat lonjakan pasokan.
“Kemungkinan besar peningkatan produksi dilakukan secara bertahap dan terukur. Perusahaan energi AS tentu ingin menjaga harga tetap stabil agar investasi yang mereka tanamkan tetap menguntungkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, alih-alih terjadi banjir pasokan yang tak terkendali, pasar global justru akan menyaksikan distribusi minyak Venezuela yang diawasi ketat oleh kebijakan energi Amerika Serikat.
Pandangan senada disampaikan Ekonom energi dari Center of Reform on Economics (Core), Muhammad Ishak Razak. Ia menilai, dalam jangka menengah hingga panjang, peningkatan produksi minyak Venezuela berpotensi mengalir ke pasar Asia. Jika itu terjadi, harga minyak di kawasan Asia berpeluang ikut turun.
“Dampaknya bisa dirasakan Indonesia karena harga BBM impor sangat bergantung pada harga minyak global. Jika harga minyak turun, BBM di Indonesia berpotensi menjadi lebih murah,” tegasnya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan pemberian subsidi bagi perusahaan energi AS untuk membangun kembali industri minyak Venezuela. Wacana tersebut muncul seiring upaya pemerintahannya mendorong perusahaan migas Amerika berinvestasi di negara tersebut, beberapa hari setelah Washington menggulingkan Presiden Nicolás Maduro.
Dalam wawancara dengan NBC News pada Senin (5/1/2026) waktu setempat, Trump menyatakan bahwa proyek perluasan operasi perusahaan energi AS di Venezuela dapat mulai berjalan dan beroperasi dalam waktu kurang dari 18 bulan.
Pada Selasa malam, Trump juga mengungkapkan rencana awal pengiriman hingga 50 juta barel minyak Venezuela ke Amerika Serikat, dengan nilai lebih dari US$2,8 miliar berdasarkan harga acuan West Texas Intermediate (WTI). Ia menegaskan minyak tersebut akan dijual mengikuti harga pasar dan diharapkan menguntungkan kedua negara.
Di sisi lain, kepastian nasib miliaran barel minyak Venezuela yang menjadi hak perusahaan asing masih belum jelas setelah penangkapan Nicolás Maduro oleh otoritas AS akhir pekan lalu. Mengutip Bloomberg News, analis Morgan Stanley menyebut perusahaan migas milik China dan Rusia memiliki klaim besar atas minyak Venezuela berdasarkan perjanjian yang telah ada.
Meski demikian, klaim tersebut dinilai masih jauh lebih kecil dibandingkan total cadangan minyak Petroleos de Venezuela SA yang diperkirakan mencapai lebih dari 200 miliar barel. Morgan Stanley, mengutip data konsultan Wood Mackenzie, mencatat China Petroleum & Chemical Corp. (Sinopec) memiliki klaim sekitar 2,8 miliar barel minyak di Venezuela, disusul Roszarubezhneft dan China National Petroleum Corp.
Adapun Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya telah memproyeksikan bahwa surplus minyak terbesar akan terjadi pada 2026. Dalam laporan Oktober lalu, IEA menyebut lonjakan produksi dari lima negara di Benua Amerika—Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Guyana, dan Argentina—diperkirakan melampaui pertumbuhan permintaan global.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan, perlambatan permintaan terutama dipicu oleh pergeseran ekonomi China dari industri berat serta berkurangnya penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, sebagaimana disampaikan dalam wawancara dengan Bloomberg Television pada Oktober 2025. (gn)
Tidak ada komentar