REFLEKSI TAHUN BARU 2026
Opini : Achmad rosyad haddad (Pemerhati Sosial dan Budaya Maluku Utara)
Tahun telah berganti.
Waktu terus berjalan, meninggalkan jejak-jejak yang tak selalu sempat kita maknai.
Dalam hening pergantian tahun ini, kita dihadapkan pada satu pertanyaan paling jujur : masihkah kita hidup sebagai manusia yang beradab, atau sekadar manusia yang hidup?
Fagogoru, sejatinya, bukan sekadar nama.
Ia bukan hanya penanda wilayah, bukan pula sekadar identitas kultural yang kita banggakan saat upacara atau logo organisasi.
Fagogoru adalah amanah.
Ia adalah nilai sakral yang ditanamkan leluhur sebagai jalan hidup manusia sejak dilahirkan hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Leluhur kita memahami bahwa manusia diciptakan bukan tanpa tujuan.
Kita diutus ke dunia ini sebagai Khalifah—pemimpin bagi diri sendiri dan bagi semesta di sekitarnya—untuk menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kasih sayang, agar terwujud rahmatan lil ‘alamin.
Maka Fagogoru lahir, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai perjanjian moral.
Dari makna fa dan goguru—saling menyayangi, saling mengasihi—lahirlah falsafah luhur:
NGAKU RE RASAI
BUDI RE BAHASA
SOPAN RE HORMAT
MTAT RE MEMOY
Sebuah rangkuman adabt manusia yang sempurna, sederhana, namun mendalam.
Tanpa bab dan pasal, tanpa ancaman hukuman, namun mampu membentuk manusia yang tahu malu, tahu takut berbuat tercela, tahu hormat pada yang tua, dan tahu memuliakan yang muda.
Lalu nilai itu dipadatkan lagi dalam tiga pilar kehidupan:
FALCINO, FAISAYANG, dan FALGALI.
Saling mengingatkan dalam kebaikan.
Saling menyayangi tanpa syarat.
Saling membantu dalam susah dan senang.
Namun hari ini, di penghujung tahun yang telah berlalu, kita harus jujur bercermin.
Di sekitar kita, adab kian memudar.
Orang tua disakiti oleh anaknya sendiri.
Guru yang seharusnya dimuliakan justru dihina dan diperlakukan dengan kasar.
Yang muda kehilangan sopan santun, yang tua kehilangan wibawa.
Aturan semakin banyak, tetapi kebijaksanaan semakin sedikit.
Nauzubillah min dzalik.
Lebih menyedihkan lagi, ketika nilai Fagogoru hanya tinggal nama.
Ia dielu-elukan dalam pidato, tetapi diabaikan dalam perilaku.
Kita memiliki rumah bersama—Pengurus Besar Fagogoru, Fagogoru Kota Ternate, Fagogoru DKI Jakarta—namun sering kali lupa menjaga adab di dalamnya.
Alih-alih saling menguatkan, kita justru saling menjatuhkan.
Alih-alih memberi teladan, kita malah memperlihatkan perpecahan.
Padahal, budaya tidak hidup dari simbol.
Budaya hidup dari kebiasaan.
Memasuki Tahun 2026, inilah saatnya kita kembali ke akar.
Bukan dengan wacana besar yang sulit diwujudkan, tetapi dengan langkah-langkah kecil yang konsisten.
Dimulai dari hal paling sederhana namun paling bermakna:
hadir saat saudara kita tertimpa musibah.
Menjenguk yang sakit.
Meringankan beban yang berduka.
Menguatkan yang lemah.
Mengulurkan tangan tanpa menunggu diminta.
Di situlah FALGALI hidup kembali.
Di situlah Fagogoru berhenti menjadi nama, dan kembali menjadi karakter.
Semoga Tahun 2026 menjadi titik balik.
Tahun di mana kita tidak hanya mengaku sebagai orang Fagogoru,
tetapi benar-benar hidup dengan jiwa Fagogoru.
Beradab dalam tutur, bijak dalam sikap, dan tulus dalam persaudaraan.
Semoga kelak, dunia mengenal generasi Fagogoru
bukan karena banyaknya organisasi,
tetapi karena akhlaknya yang meneduhkan.
Selamat Tahun Baru 2026.
Mari pulang ke nilai.
Mari hidupkan kembali Fagogoru dalam diri kita”
Tidak ada komentar