x Pulau Seribu Asri

Erick Thohir dan Sepakbola Indonesia : Dari Kudeta Moral ke Kebangkrutan Prestasi

waktu baca 3 menit
Sabtu, 13 Des 2025 20:28 85 M Ary K

Erick Thohir dan Sepakbola Indonesia: Dari Kudeta Moral ke Kebangkrutan Prestasi
Oleh: Duddy S. Sutandi (Pengamat Sosial & Mantan Ketua Asprov PSSI Jawa Barat)

Sepakbola Indonesia sepanjang 2025 tidak sekadar gagal. Ia runtuh secara struktural. Dan keruntuhan itu tidak lahir dari lapangan, ruang ganti, atau kualitas pemain, melainkan dari pusat kekuasaan federasi. Dalam konteks ini, Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI tidak bisa lagi berlindung di balik narasi “risiko kepemimpinan”. Ia adalah aktor utama dari rangkaian keputusan yang membawa sepakbola nasional ke jurang kekecewaan kolektif.


Kudeta yang Dilabeli Reformasi
Naiknya Erick Thohir ke kursi Ketua Umum PSSI sejak awal sudah sarat problem etika politik olahraga. Proses penyingkiran Mochamad Iriawan (Iwan Bule) bukan sekadar pergantian kepemimpinan biasa, melainkan kudeta moral yang dibungkus jargon reformasi.

Tragedi Kanjuruhan dijadikan legitimasi total untuk menggusur kepemimpinan lama, seolah seluruh dosa struktural sepakbola Indonesia bermuara pada satu figur. Padahal publik tahu, persoalan sepakbola nasional bersifat sistemik, lintas rezim, dan tidak selesai hanya dengan mengganti ketua umum.

Erick Thohir datang dengan janji good governance, profesionalisme, dan jejaring global. Namun 2025 justru membuktikan bahwa perubahan wajah tidak otomatis berarti perubahan watak kekuasaan


Kekuasaan yang Terlalu Percaya Diri
Kesalahan paling fatal Erick Thohir adalah overconfidence. Prestasi Timnas di 2024—yang sesungguhnya masih rapuh—dibaca sebagai bukti bahwa federasi telah berada di jalur benar. Dari sinilah lahir serangkaian keputusan sepihak dan tergesa-gesa.

Pemecatan Shin Tae-yong di awal 2025 adalah contoh paling telanjang. Bukan karena STY tidak boleh diganti, tetapi karena ET mengabaikan prinsip dasar manajemen olahraga: kontinuitas dan timing. Pergantian dilakukan tanpa transisi matang, tanpa narasi teknis yang jujur, dan tanpa kesiapan sistem pengganti.

Lebih buruk lagi, keputusan itu diambil dengan gaya top-down, khas penguasa yang merasa memiliki mandat absolut.


Eksperimen Elitis ala Erick Thohir
Masuknya Patrick Kluivert dan rombongan pelatih asing lebih menyerupai proyek simbolik globalisme ketimbang kebutuhan teknis sepakbola Indonesia. Tidak pernah ada grand design yang dipublikasikan secara transparan:

Apa filosofi permainan nasional?
Bagaimana kesinambungan U-17, U-20, U-23, dan senior?
Apa tolok ukur keberhasilan selain retorika “proses”?

Akibatnya jelas:
Timnas senior gagal total.
U-23 runtuh.
U-22 tersingkir memalukan di SEA Games.

Ironisnya, Timnas U-17—yang paling sedikit disentuh oleh manuver Erick Thohir—justru tampil paling stabil. Fakta ini menghancurkan klaim kepemimpinan ET sebagai faktor utama kemajuan sepakbola nasional.


Sepakbola Dikelola Seperti BUMN
Erick Thohir membawa logika korporasi dan politik kekuasaan ke dalam federasi. Sayangnya, sepakbola bukan BUMN, bukan holding, dan bukan proyek pencitraan internasional. Ia membutuhkan kerendahan hati, kesabaran, dan konsistensi, bukan aksi cepat penuh simbol.

Dalam korporasi, kegagalan bisa ditutup dengan laporan keuangan. Dalam sepakbola, kegagalan dibayar dengan hilangnya satu generasi emas.

Tahun 2025 adalah bukti bahwa ET gagal membedakan antara mengelola kekuasaan dan membina olahraga.


Integritas yang Dikhianati oleh Ego
Erick Thohir sering berbicara tentang integritas. Namun integritas bukan soal jejaring FIFA, bukan soal foto bersama elite global, melainkan kesediaan mengakui kesalahan dan membayar harga politiknya.

Sampai hari ini, tidak ada pengakuan jujur bahwa :
Pergantian pelatih dilakukan keliru, Kebijakan Timnas kacau dan federasi kehilangan arah.

Yang ada justru pengalihan isu : ruang ganti, podcast, dan kambing hitam teknis.


Penutup: Erick Thohir Harus Bertanggung Jawab
Sepakbola Indonesia 2025 adalah monumen kegagalan kepemimpinan Erick Thohir di PSSI. Ia tidak hanya gagal memenuhi janji reformasi, tetapi juga mengulangi dosa lama federasi: sentralisasi kekuasaan, anti-kritik, dan alergi evaluasi struktural.

Jika Erick Thohir masih ingin dikenang sebagai reformis, bukan sekadar penguasa federasi, maka satu-satunya jalan adalah mengakui kegagalan dan mengembalikan PSSI ke rel sistem, bukan ego.

Jika tidak, sejarah akan mencatatnya secara sederhana :
Erick Thohir menggulingkan Iwan Bule atas nama perubahan, tetapi justru mengantar sepakbola Indonesia pada kegagalan yang lebih telanjang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

12 hours ago
13 hours ago
14 hours ago
14 hours ago
14 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!