Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief. Foto : Viralterkini.id/MAK Viralterkini.id, JAKARTA, – Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief kembali menyoroti persoalan kondisi rumput Jakarta International Stadium (JIS) yang hingga kini belum optimal untuk digunakan secara permanen.
Ferry mengungkit kembali keputusan pergantian rumput yang dilakukan pada persiapan Piala Dunia U-17 2023, yang menurutnya berdampak signifikan pada kondisi lapangan hingga saat ini.
Sorotan Ferry muncul setelah Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyampaikan bahwa JIS merupakan aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ferry menilai pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan keputusan pada 2023, ketika rumput JIS diganti demi kepentingan penyelenggaraan turnamen level dunia tersebut.
“Bagaimana supaya rumput ini benar-benar bisa digunakan Persija secara permanen dan kontinu? Namun, di sisi lain, saya juga bertanya, kalau memang ini aset Pemda, kenapa waktu itu diganti rumputnya?” ujar Ferry, mempertanyakan keputusan tersebut, yang dikutip Senin (8/12/2025).
Ferry menjelaskan bahwa pada masa pembangunan JIS, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan, telah menyesuaikan media tanam dan jenis rumput dengan kondisi cuaca di kawasan Jakarta Utara.
Menurutnya, desain awal itu merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang agar rumput dapat beradaptasi dengan iklim tropis dan kondisi kelembapan sekitar JIS.
Namun, keputusan perubahan media tanam dan jenis rumput saat persiapan Piala Dunia U-17 membuat rancangan awal itu tidak lagi relevan.
“Pak Anies waktu itu sudah membangun stadion dengan rumput dan media tanam yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Tetapi kemudian semua itu dirombak,” kata Ferry.
Ia menambahkan bahwa kondisi rumput yang tidak lagi ideal membuat Persija dan pihak terkait harus memikirkan berbagai opsi agar JIS kembali layak untuk digunakan pertandingan.
Beberapa pilihan yang dipertimbangkan antara lain pergantian rumput kembali, perubahan metode perawatan, maupun evaluasi ulang terhadap media tanam yang digunakan.
“Sekarang ketika ini sudah tidak bisa dipakai dengan normal, kami yang harus memikirkan lagi apakah harus diganti lagi, atau perawatannya yang diubah, atau bagaimana sisi perawatannya itu yang harus kita pelajari lagi,” ujarnya.
Selain kondisi rumput, Ferry juga menyoroti kurangnya komunikasi yang jelas dari Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku pengelola stadion.
Ia menilai hingga kini belum ada penjelasan komprehensif mengenai rencana pemulihan rumput, teknologi pendukung yang akan digunakan, serta estimasi waktu JIS kembali siap dipakai Persija sebagai kandang.
“Apabila dari Jakpro ada kabar terbaru, kapan bisa dipakai dan teknologi apa yang bisa digunakan agar rumputnya bisa cepat digunakan? Sejauh ini dari pihak sana selalu mengemukakan masalah cahaya matahari,” kata Ferry.
Namun, Ferry menilai persoalan rumput JIS tidak sesederhana faktor pencahayaan. Ia menilai penyesuaian jenis rumput, media tanam, dan teknik perawatan harus menjadi perhatian utama dalam pemulihan kondisi lapangan.
Karena itu, pihaknya mendorong agar dilakukan evaluasi mendalam oleh tenaga ahli yang benar-benar independen.
“Kalau saya melihat, kelihatannya bukan hanya sesimpel itu. Kelihatannya memang jenis rumput dan media tanamnya bermasalah. Kita harus mencari second opinion,” tegasnya.
Ia pun mengusulkan agar pihak independen yang kompeten di bidang agronomi atau spesialis rumput stadion turun langsung melakukan penilaian objektif.
Menurutnya, penilaian tersebut penting agar pengelolaan JIS tidak hanya bergantung pada evaluasi internal, tetapi juga berdasarkan kajian profesional yang bebas kepentingan.
“Kami meminta pihak lain di luar JIS untuk datang ke sana. Pihak tersebut harus yang benar-benar ahli, tidak ada kepentingan politis apa pun. Mereka harus memberikan pernyataan tentang apa yang harus dilakukan agar semua tim yang bermain di sana bisa dengan mudah memakai tanpa ada kerusakan,” ujarnya.
Ferry menegaskan bahwa Persija membutuhkan kepastian mengenai kesiapan JIS, mengingat stadion tersebut dirancang sebagai kandang utama Macan Kemayoran.
Ia berharap evaluasi menyeluruh dapat dilakukan dalam waktu dekat, sehingga perbaikan rumput dapat disesuaikan dengan kebutuhan klub dan standar pertandingan profesional.
Hingga kini, Persija masih menunggu keputusan resmi dari Jakpro mengenai langkah konkret yang akan ditempuh.
Evaluasi tekhnis dan kajian oleh pihak independen dinilai menjadi kunci dalam menentukan apakah rumput JIS perlu diganti kembali atau cukup diperbaiki melalui perawatan intensif.
Ferry menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset publik seperti JIS.

Menurutnya, stadion sebesar JIS harus mampu memberikan fasilitas terbaik tidak hanya bagi Persija, tetapi juga untuk berbagai agenda olahraga nasional dan internasional yang mungkin digelar di masa mendatang. (rby)
Tidak ada komentar