100 Tahun Mahathir dan Pikiran Dilema Melayu
Opini oleh :Megel Jekson | Trust Indonesia |
Viralterkini.id, Jakarta – Seperti usianya, Mahathir punya 1000 cara untuk bermanuver menjaga dan meraih kekuasaan. Hingga usia 1 abad ini, Mahathir tetap berhasil membangun posisi tawar di hadapan rival politiknya.
Di depan Anwar Ibrahim, Mahathir bisa menjelma menjadi ancaman politik yang menyuarakan kedaulatan pribumi dan kekuatan Islam. Mahathir boleh menjadi seperdelapan kekuatan politik yang bersiap menjerat leher Anwar.
Lihat saja, dalam kurun waktu sebulan terakhir, Mahathir mengumumkan koalisi besar untuk menyelamatkan Melayu. Meski dinyatakan sebagai kelompok non-partisan, Koalisi besar tersebut melibatkan (Koalisi Politik) Perikatan Nasional dan sebagian aktivis UMNO. Koalisi besar ini jelas menjadi satu satunya pengimbang dominasi Anwar Ibrahim di pentas sosial-politik.
Selama tinggal di Malaysia, saya melihat bagaimana sebagian besar orang Malaysia (di kampung/ desa) menganggap Mahathir punya keberpihakan pada orang Melayu (pribumi). Dia mengutamakan Melayu sebagai kelompok penduduk yang harus mendapatkan prioritas dan dukungan dari pemerintah.
Sikap Mahathir ini dinilai konsisten dengan pendiriannya yang selama ini termanifestasikan lewat pokok pikirannya: The Malay Dilemma. Mahathir percaya keterbelakangan Melayu di Malaysia disebabkan oleh pesimisme kelompok Melayu sendiri dan kebijakan pemerintah yang tidak adil.
Akan tetapi, Malaysia abad 21 hampir sebagian besar berubah. Mayoritas kelompok Melayu berhasil memimpin bisnis dan menguasai perpolitikan Malaysia. Hal-hal yang dikampanyekan Mahathir, sudah berubah 80 persen.
Tetapi dalam dunia politik, kampanye kedaulatan pribumi selalu menjadi jualan yang menarik. Apalagi jika dibanding-bandingkan dengan posisi taikun-taikun etnis China dan India yang memiliki kekayaan setinggi langit. Sentimen kepribumian itu mendadak jadi bahan bakar emosional untuk memenangkan harapan dan aspirasi orang banyak.
Mahathir yang berusia 100 tahun itu tetaplah Mahathir seperti 55 tahun lalu saat menulis Malay Dilemma. Dia juga orang yang sama yang memusuhi Anwar karena mengancam kekuasaannya di tahun 1998. (mj)
Tidak ada komentar