x Pulau Seribu Asri

PBSI Segera Cepat Untuk Evaluasi & Reformasi

waktu baca 2 menit
Rabu, 18 Jun 2025 07:00 170 M Ary K

Viralterkini.id, Jakarta -Krisis prestasi bulu tangkis Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Dua tahun terakhir, torehan prestasi di berbagai turnamen elite dunia terus menurun. Pada tahun 2025, belum satu pun gelar berhasil diraih di level Super 500, 750, maupun 1000 dalam rangkaian tur BWF.

Satu-satunya gelar datang dari turnamen level Super 300, ketika pasangan ganda campuran Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu menjuarai Taiwan Open, 10 Mei lalu.

“Secara kemampuan bermain, Jonatan Christie dan kawan-kawan tidak kalah dari pemain negara lain. Namun, prestasi minim karena faktor nonteknis yang tak teratas,” ujar pengamat bulu tangkis, Fritz Simanjuntak, Selasa (17/6).

Fritz mencontohkan keberhasilan Jonatan dan pasangan Fajar Alfian/M Rian Ardianto menjuarai All England 2024. Turnamen legendaris itu masuk kategori Super 1000 dan dianggap paling bergengsi setelah Olimpiade dan Kejuaraan Dunia. Artinya, potensi tetap ada.

Menurut Fritz, PBSI sejauh ini sudah memberikan fasilitas latihan dan dukungan bertanding yang memadai. Maka, sorotan pun diarahkan pada tim pelatih dan pembinaan. “Kesalahan bukan pada atlet sepenuhnya, tapi pada tim pelatih yang tidak bisa menyelesaikan masalah mental dan psikologis pemain,” ujarnya.

Masalah yang kerap muncul adalah ketidakmampuan atlet mengelola tekanan dalam pertandingan panjang. “Mereka sering unggul di gim pertama, lalu kehilangan fokus dan strategi di gim kedua dan ketiga,” ujarnya. Dia menyarankan PBSI melakukan evaluasi menyeluruh dan menyampaikannya secara terbuka.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, menilai proses pembinaan tidak bisa diukur semata dari kemenangan. “Kalau seorang atlet sudah berproses bertahun-tahun dan menjuarai Super 1000, itu patut diapresiasi. Jangan dianggap gagal hanya karena kalah di turnamen berikutnya,” ujar Eng Hian.

Pengamat lain, Daryadi, mengingatkan bahwa gejala kemunduran sudah terlihat sejak tahun lalu. Salah satu akar masalahnya adalah regenerasi yang mandek. “Di tunggal putra, jarak usia antara Jonatan (27) dan para junior seperti Alwi Farhan (20) dan Zaki Ubaidillah (17) terlalu jauh. Ada satu generasi yang hilang, dan dampaknya terasa sekarang,” jelasnya.

Di tunggal putri, selain Gregoria Mariska dan Putri Kusuma Wardani, belum ada pemain yang mampu menembus level atas. “Poin mereka masih belum cukup,” ujar Daryadi.

Situasi berbeda terlihat di sektor ganda putra, yang justru menumpuk dalam satu generasi. Namun, pelatih utama Herry IP masih terus mengandalkan Fajar/Rian yang kini berusia 30 dan 29 tahun. “Mereka sudah sepuluh tahun bersama. Akibatnya, pemain seperti Sabar Karyaman/Reza Isfahani mundur dari Pelatnas pada akhir 2021 karena tak kuat bersaing di dalam negeri,” ujar Daryadi.

Jika tak segera ditangani secara menyeluruh, krisis ini bukan hanya menjadi catatan kegagalan semusim, tetapi bisa berubah menjadi kemunduran jangka panjang. (ma)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

WhatsApp Image 2026-01-11 at 14.22.35

INSTAGRAM

16 hours ago
17 hours ago
18 hours ago
19 hours ago
19 hours ago

TIKTOK

LAINNYA
x Pulau Seribu Asri
error: Content is protected !!