Kredit Foto: Cozymeal.com Viralterkini.id – Laporan Top Food Trends 2026 yang dirilis oleh Cozymeal, platform pengalaman kuliner global, menunjukkan perubahan tren makanan yang semakin dipengaruhi oleh gaya hidup modern, kesehatan, dan media sosial. Tren-tren ini bukan hanya berlaku di Amerika Serikat, tetapi juga mulai terlihat di Asia, termasuk Indonesia.
Konsumen kini mencari pengalaman makan yang lebih bermakna, terhubung dengan budaya, dan menghadirkan rasa autentik yang tetap relevan dengan gaya hidup mereka. Tren ini juga dipengaruhi oleh pertumbuhan komunitas kuliner online dan peningkatan minat terhadap makanan sehat.
Tren pertama ialah pengalaman kuliner yang dipersonalisasi. Konsumen tidak lagi puas hanya sekadar makan; mereka ingin pengalaman yang dibuat khusus sesuai preferensi rasa, alergi, atau gaya hidup.
Di Indonesia, beberapa restoran dan food service sudah merespons tren ini dengan menawarkan menu build-your-own bowls, diet khusus (mis. keto/vegans), hingga rekomendasi menu berdasarkan profil pelanggan.
Comfort food klasik kini hadir dalam bentuk yang lebih modern dan sehat. Hidangan seperti bubur ayam dengan topping unik, roti bakar lengkap dengan saus gourmet, hingga mie kuah premium menjadi populer di kalangan semua generasi.
Sementara itu, tren comfort food elevated juga terlihat di banyak warung dan kafe di Jakarta dan Bandung yang memadukan cita rasa tradisional dengan konsep modern.
Orang semakin memilih plant-based foods karena alasan kesehatan, lingkungan, dan etika hewan. Produk seperti plant-based meat, dairy alternative, dan menu vegan kreatif makin sering muncul di restoran besar.
Di Indonesia, pilihan makanan nabati mulai berkembang, dari burger nabati di Bali hingga menu vegan lokal yang memakai bahan seperti tempe, jamur, dan sayuran lokal.
Tren makanan etnik dengan cita rasa autentik semakin kuat. Cozymeal mencatat pertumbuhan minat terhadap hidangan spesifik seperti Oaxacan tacos, Filipino adobo, hingga Korean street food.
Hal ini sejalan dengan tren otentikasi kuliner yang juga makin diperhatikan di Indonesia. Banyak pelanggan kini menyadari perbedaan antara versi “generik Asia” dan hidangan asli dari daerah tertentu.
Minuman yang menyehatkan, terutama yang berbasis fermentasi seperti kombucha, kefir, atau minuman herbal lokal, makin mendapat tempat di dapur dunia. Konsumen tak hanya mencari rasa, tetapi juga manfaat kesehatan dari minuman yang mereka konsumsi.
Di Indonesia, minuman fermentasi seperti tapai, brem Bali, dan minuman herbal tradisional kini juga mulai dipasarkan dengan kemasan modern.
Masakan jalanan kembali menjadi primadona karena nilainya yang otentik, terjangkau, dan penuh karakter. Di berbagai kota besar dunia, beberapa food truck dan street food festival kini makin populer.
Fenomena ini terjadi pula di Indonesia, dengan jajanan seperti sate Padang, martabak manis, cireng kekinian, dan siomay Bandung yang sering tampil di festival kuliner.
Cozymeal juga mencatat bahwa konsumen semakin terbuka terhadap rasa global yang “toleran” — artinya, mereka mau mencoba kombinasi rasa yang tak biasa, seperti manis + pedas, atau rempah pedas digabung dengan teknik pengolahan Barat.
Contohnya, di Indonesia banyak kafe yang memadukan kopi lokal dengan rempah nusantara, atau dessert unik memakai kombinasi durian + cokelat.
Tren-tren ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha kuliner di Indonesia:
Agar bisnis kuliner di Indonesia tetap kompetitif, pelaku usaha perlu:
Dengan cara ini, tren makanan global 2026 dapat menjadi peluang nyata bagi perkembangan food ecosystem Indonesia tanpa kehilangan karakter lokal. (**)
Tidak ada komentar