Anugerah Bisnis & Ham Viralterkini.id, JAKARTA- SETARA Institute menggelar malam apresiasi Anugerah Bisnis dan Hak Asasi Manusia (BHAM) 2025 di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (25/11).
Dengan mengusung tema “Perbaikan Berkelanjutan Korporasi dalam Praktik Bisnis yang Bertanggung Jawab sebagai Kunci Pembangunan Nasional”, acara ini memberikan penghargaan kepada 13 perusahaan, rinciannya delapan sektor perkebunan sawit dan lima sektor pertambangan.
Turut hadir pada acara yang berkolaborasi dengan Yayasan Taruma Negara ini, antara lain Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kementerian HAM Munafrizal Manan, anggota Komisi X DPR RI dari PDIP Once Mekel yang juga mantan vokalis grup band Dewa 19, Ketua Dewan Nasional SETARA Institute Hendardi, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Ismail Hasani, Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan, dan 18 pimpinan perusahaan.
Adapun Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menyampaikan kata sambutannya secara daring. Baik Munafrizal Manan maupun Anis Hidayah mengapresiasi langkah SETARA Institute memberikan penghargaan kepada perusahaan-perusahaan sawit dan tambang yang kompatibel terhadap perlindungan HAM.
Dalam pidatonya, Ismail Hasani menjelaskan bahwa SETARA Institute telah menyelesaikan Riset RBC (Responsible Business Conduct) Benchmark yang bertujuan untuk mengukur dan menilai sejauh mana penanaman (embedding) prinsip bisnis dan HAM (UNGPs on Business and Human Rights), ESG dan “sustainability” (kesinambungan) diterapkan oleh perusahaan.
“Untuk pertama kalinya, riset dan penghargaan ini difokuskan pada sektor kelapa sawit dan pertambangan terhadap perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI),” kata Ismail Hasani.
Di tempat yang sama, Halili Hasan menjelaskan bahwa Anugerah Bisnis dan HAM ini bagian dari inisiatif SETARA Institute yang dilakukan berdasarkan riset atau penelitian.
“Kami menyebutnya sebagai Responsible Business Conduct Benchmarking. Jadi, kita meneliti bagaimana sesungguhnya entitas bisnis itu melakukan atau menampilkan praktik berbisnis yang bertanggung jawab,” ungkap Halili Hasan.
“Kalau kita bicara soal tanggung jawab, apa dasar nilai dari pertanggungjawaban, yaitu HAM. HAM sebagai nilai dasar, tentu saja mesti dipedomani untuk kemudian menjadi bagian dari standar dari operasi bisnis di Indonesia, dan penelitian yang kami lakukan pada utamanya untuk inisiatif ini pada dua sektor, pertama sektor sawit, yang kedua sektor tambang,” lanjutnya.
Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi konsentrasi berkenaan dengan bagaimana entitas bisnis itu bisa kompatibel dengan HAM.
“Tentu ada regulasi internasional global yang meskipun itu bersifat voluntary, belum mandatory, tetap kita harus catat sebagai salah satu yang mesti mendorong entitas bisnis internasional untuk kemudian kompatibel dengan perlindungan HAM, regulasi di tingkat domestik, misalnya kita harus catat itu karena di tingkat domestik sebenarnya regulasi untuk entitas bisnis itu lebih kompatibel dengan HAM,” terangnya.
Mengenai apakah ajang ini akan rutin digelar setiap tahun, Halili masih mempertimbangkan apakah satu tahun atau dua tahun sekali.
“Tapi secara substantif kita ingin melihat bahwa ke depan ini bisa mendorong semua perusahaan untuk secara lebih progresif, sesuai dengan standar HAM, baik secara nasional maupun internasional. Mau tahunan atau dua tahunan, tentu secara teknis akan dipengaruhi oleh banyak hal. Beberapa hal kita mesti timbang, tapi yang paling pokok adalah anugerah ini kita harapkan dapat mendorong seluruh entitas bisnis di Indonesia untuk secara lebih baik menyesuaikan diri dengan regulasi dengan standar, dengan prinsip-prinsip HAM baik di tingkat internasional maupun nasional,” jelas Halili Hasan.
Nabhan Aiqani, Peneliti SETARA Institute menambahkan, perusahaan yang menjadi objek riset memang difokuskan pada sawit dan tambang. Alasannya, dua sektor tersebut punya dampak besar terhadap perekonomian negara.
“Dari sisi scoring (penilaian) dan metodologi, kita memang menargetkan ada 8 perusahaan di sektor sawit dan 18 perusahaan di sektor tambang, dan 21 perusahaan di sektor sawit yang di bursa dalam proses IPO (initial public offering) atau penawaran saham perdana, dan punya operasi strategis di Indonesia, tapi mereka melantai di bursa luar negeri,” ujarnya.
“Jadi, memang karena dua sektor ini punya dampak ekonomi yang tinggi bagi pertumbuhan ekonomi negara, tapi juga dalam risiko tinggi. Tentu dua hal ini harus bisa kita seimbangkan dalam sisi paradigma kebijakan dan juga paradigma implementasi di lapangan. Kami berharap perusahaan-perusahaan bisa terus mendorong ‘continuous improvement’ dan juga ‘beyond compliance’. Artinya melebihi kepatuhan, tidak hanya terkait dengan adanya standar-standar dan juga adanya kebijakan-kebijakan yang tertulis di atas kertas, tapi juga perbaikan-perbaikan secara sistematis,” sambungnya. (ma)
Berikut daftar perusahaan penerima Anugerah Bisnis dan HAM 2025 dari SETARA Institute:
Sektor Perkebunan Kelapa Sawit :
Sektor Pertambangan :
Tidak ada komentar